69 views

Gagal Pimpin Lamteng

//Data BPS 2019 Warga Miskin di Lamteng Tembus 12,03 Persen//

LAMPUNG TENGAH – Bupati Lampung Tengah (Lamteng), Loekman Djoyosoemarto dinilai gagal memimpin kabupaten beguwai jejama.

Hal ini terlihat selama kepemimpinannya, fakta di lapangan menyebutkan masih banyak masyarakat di Lamteng hidup dibawah garis kemiskinan.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Lamteng mencatat, angka masyarakat yang hidup dalam kemiskinan di daerah itu tahun 2019 mencapai 12,03 persen.

Kepala Seksi (Kasi) Statistik Sosial BPS Lamteng, Yasir Wijaya mengatakan, jumlah angka kemiskinan di atas diprediksi masih akan meningkat, dikarenakan pandemi Covid-19 yang masih terus berlangsung.

“Jumlah itu (masyarakat hidup dalam kemiskinan) berdasarkan jumlah total masyarakat Lamteng sebanyak 1.290.406 jiwa atau sebanyak 160 ribunya dalam garis kemiskinan,” kata Yasir Wijaya, kemarin.

Ia menambahkan, data jumlah masyarakat yang termasuk dalam kategori miskin yang dilakukan BPS, mengacu pada data konsumsi dan non konsumsi masyarakat.

“Data kemiskinan mengacu pada data konsumsi dan non konsumsi. Kemudian dikalkulasi ke dalam nilai rupiah, yakni pendapatan warga di bawah Rp 340 ribu per bulan dinyatakan miskin,” jelas Yasir Wijaya.

Selain itu lanjut Yasir, bagi masyarakat yang menerima bantuan langsung tunai (BLT) dan penerima keluarga harapan (PKH) yang disalurkan pemerintah pusat, tidak masuk dalam kategori miskin.

Mahmud salah seorang warga Kecamatan Seputih Agung mengatakan, dampak dari pandemi Covid-19 saat ini sangat dirasakan olehnya. Bahkan, pendapatannya yang tak menentu setiap hari makin sulit untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.

“Sekarang ini makin sulit, mas. Kita kerja serabutan pendapatan hanya Rp 50 ribu paling banyak sehari, sekarang ini makin tak menentu (pendapatannya). Karena hasil tani banyak yang tidak bisa dijual, dampaknya ke kita sebagai buruh panen,” ujarnya.

Menurutnya, untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, bapak dua orang anak itu mengaku berhemat dan mengurangi menu makan mereka ke bahan makanan yang terjangkau.

Pernyataan tak jauh berbeda juga disampaikan Saleh pedagang makanan di Bandar Jaya. Sejak ditetapkan oleh Bupati Loekman Djoyosoemarto sebagai kawan zona merah, pendapatnya pun setiap hari menjadi turun.

“Dagangan saya, mas, kalau biasannya jam segini (22.00 WIB) sudah habis, sekarang ini sepi. Karena warga takut ya mau keluar rumah. Kan kemarin (Kecamatan Terbanggi Besar) ditetapkan zona merah Corona,” kata Saleh.

Masyarakat berharap, pandemi Covid-19 dapat segera berakhir, serta pemerintah dapat memberikan jaminan sehingga usaha mereka tetap tak mengalami penurunan omzet karena penetapan zona oleh pemerintah daerah. (san/asa)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *