1.802 views

Soroti Balonkada Borong Partai

Wakil Ketua Komite II DPD RI Bustami Zainudin menyoroti fenomena upaya ‘memborong partai’ oleh bakal calon Kepala Daerah (Balon Kada) yang akan maju di Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) 9 Desember 2020 mendatang.

Menurutnya, Pilkada merupakan pesta demokrasi partisipatif dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Selain itu, sebagai bahan evaluasi bagi para pemimpin yang sedang menjabat maupun yang baru akan menjabat.

“Masa iya sih, partai politik (Parpol) semuanya mengarah pada satu calon karena tidak mungkin setiap partai tidak memiliki kader-kader yang mumpuni,” ujarnya, kemarin.

Senator asal Lampung ini menegaskan, dirinya tidak ingin yang terjadi dalam pemilihan Walikota Makassar pada Pilkada tahun 2018 lalu, calon tunggal melawan kotak kosong terulang kembali.

“Tidak boleh (ada) kotak kosong. Kenapa? Karena rakyat harus memilih. Masa Pilkada kotak kosong, sih. Pemilihan kepala Desa saja selalu diupayakan untuk ada pilihan calon,” ujarnya.

Untuk menghindari terjadinya ‘Pilkada kotak kosong’ itu, Mantan Bupati Way Kanan ini berharap, setiap partai politik memunculkan kader terbaiknya untuk memberikan alternatif pilihan kepada masyarakat.

“Partai politik itu kan ada lembaga kaderisasi untuk orang-orang yang berhimpun di sana, jadi harusnya partai-partai itu memunculkan kadernya masing-masing untuk bertarung, rakyat jangan dibuat tidak ada pilihan,” ucap Bustami.

Menurutnya, sumber dari kepemimpinan di daerah itu dari partai politik karena kader partai politik memang dipersiapkan untuk memegang jabatan politik. “Seyogyanya partai politik mempersiapkan kader-kadernya,” tambahnya.

“Jangan sampai kader-kader partai politik sendiri yang mumpuni dan siap (mencalonkan diri) tidak didukung, sayang. Ini persoalannya, bagaimana visi misi partai politik itu bisa disampaikan (kepada masyarakat),” imbuhnya.

Bustami menambahkan, prinsipnya, dirinya ingin membangun demokrasi partisipatif. Memunculkan banyak pilihan calon itu yang semestinya di upayakan, bukan sebalik ‘membunuh demokrasi’ dengan memborong partai.

“Kita patut mencurigai pasangan calon yang berupaya untuk ngeborong partai, ini ada indikasinya,” tandasnya. (cah)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *