31 views

Terkait Pernyataan Gubernur Tentang Pembebasan SPP, Ini Kata Aktivis Lembaga Pendidikan

Bandarlampung – Dalam situasi luar biasa seperti pandemi Covid-19 yang tengah melumpuhkan dunia, berimbas pada semua sektor di Indonesia. Terutama di sektor ekonomi yang juga berimbas pada sektor Pendidikan. Hal ini disebabkan oleh terus meluasnya persebaran Covid-19 baik di dalam negeri maupun luar negeri. Bank Indonesia (BI) pun telah merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi RI menjadi di Bawah 5 Persen atau hanya sekitar 2,5 persen saja yang biasanya mampu tumbuh mencapai 5,02 persen.

Kebijakan physical distancing untuk memutus penyebaran wabah, memaksa perubahan dari pendidikan formal di bangku sekolah menjadi belajar dari rumah, dengan sistem online, dalam skala nasional. Bahkan, ujian nasional tahun ini terpaksa ditiadakan. Tidak sedikit orangtua yang mengeluhkan susahnya mendampingi anak belajar dirumah dan membantu untuk mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, ditambah lagi masih harus membayar SPP bulanan.

Adanya surat edaran Nomor 420/1062/V.01/DP.2/2020 yang ditanda-tangani Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung, Sulpakar, yang diminta kepada Kepala SMA/SMK/SLB Negeri dan Swasta se-Provinsi Lampung penerima dana BOS reguler dan BOSDA, untuk tidak melakukan penarikan SPP atau sumbangan lainnya terhadap orang tua wali peserta didik. Tentunya hal tersebut menuai pro dan kontra.

Sekretaris umum Lembaga Pendidikan Mahasiswa Islam, Dharin Widaad M (24 Tahun) meminta adanya kebijakan oleh gubernur lampung untuk guru-guru non pns sebagaimana mestinya.

“Hal tersebut tidak akan terlalu berat untuk sekolah negeri, penerima dana BOS atau guru pns yang sebentar lagi akan mendaptkan THR. Lalu bagaimana nasib sekolah swasta serta guru-guru non pns yang digaji melalui pembayaran spp bulanan disekolahnya?Kalau spp sekolah diberhentikan, apakah pemerintah akan memberikan gaji kepada mereka?sedangkan pembelajaran harus terus berlanjut sampai tahun ajaran baru yang akan datang nanti”.

Menurutnya, Kerja keras para guru dan dosen selama ini sungguh patut diapresiasi. “Di tengah pembatasan sosial akibat wabah covid-19, mereka harus tetap semangat mengejar dan mengajar ilmu pengetahuan. Hampir tidak ada yang menyangka, wajah pendidikan akan berubah drastis akibat pandemi covid19,” terangnya.

Lanjutnya, Konsep sekolah di rumah (home-schooling) tidak pernah menjadi arus utama dalam wacana pendidikan nasional. “Meski makin populer, penerapan pembelajaran online (online learning) selama ini juga terbatas. Hal tersebut juga membutuhkan biaya baik dalam menyediakan perangkat belajar seperti ponsel dan laptop maupun pulsa untuk koneksi internet,” tukasnya. (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *