19 views

Sikap Manajemen Investasi Pada Second Wave Covid-19 terhadap IHSG

Oleh
Candra Alim
Mahasiswa Perbankan Syariah
FEB Islam UIN RIL

Kehadiran virus COVID-19 di berbagai negara hingga akhirnya Indonesia pun terserang virus ini, menyebabkan berbagai sektor pada suatu negara porak poranda.

Beberapa sektor tersebut antara lain sektor kesehatan, perekonomian dan tentunya pasar modal. Akibatnya, pemerintah mengeluarkan berbagai kebijakan untuk memperkuat aktivitas perekonomiannya.

Pada senin (12/5/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berhasil ditutup menguat 0,90% ke level 4.639,10 dengan nilai transaksi Rp 6,85 triliun dan investor asing mencatat jual bersh Rp 268,92 miliar. Sedangkan sejak awal tahun, jual bersih pelaku pasar asing mencapai Rp 21,05 triliun. Dan dperkirakan IHSG akan melemah terbatas pada perdagangan dan dengan perkiraan potensi menurunnya bursa saham Asia setelah saham AS ditutup melemah menurut PT Valbury Sekuritas.

Sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan Jumat (20/3), IHSG turun 33,41% dan diantara enam bursa saham di ASEAN yang tercatat di BEI, performa IHSG adalah yang terburuk kedua yaitu hanya lebih baik dari indeks saham Filipina, PSEi yang turun 38,85%. Pada 10 Maret 2020 BEI mengumumkan diterapkannya kebijakan trading halt (pembekuan sementara perdagangan). Perdagangan pada 12 maret 2020, IHSG sempat mengalami penurunan lebih dari 5% yang artinya dilakukan trading halt selama 30 menit. Sejak itu setidaknya 6 kali perdagangan saham dikenakan trading halt karna penurunan hingga 5% lebih. Namun pada 26 maret 2020 IHSG menyentuh level 4.338 alias naik begitu tinggi dengan menguat 10,1% .

Pada saat ini pelaku pasar cemas terhadap risiko second wave covid-19 akan membuat Dow Jones Indsutrial Average (DJIA) terkoreksi karena saat ini DJIA turun 0,49%, S&P 50 koreksi 0,47% menjadi 2.909 dan Nasdaq Composite 100 anjlok 0,24% pada 9.256. Kenaikan jumlah pasien di AS sebesar 2,09%, hal ini menghawatirkan pelaku pasar bahwa AS akan terkena second wave outbreak dari virus corona.

Katarina setiawan sebagai Chief Economist & Investment Strategist Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) menyarankan investor untuk tidak panik. Ia mengatakan bahwa ini adalah black swan event, artinya suatu peristiwa tidak terduga, sangat jarang tejadi dan membawa dampak yang ekstrim. Tidak dipungkiri bila terjadi kepanikan bahkan dalam pengambilan keputusan investasi yang tidak rasional karena kondisi seperti ini. Namun perlu diketahui, secara historikal, votalitas dan koreksi ekstrem biasanya selalu diikuti dengan kenaikan bahkan kenaikan tajam setelahnya.

Setelah kondisi black swan event ini berakhir dan jumlah pasien covid-19 mulai stabil akan membuat investor lebih tenang dalam menganalisa dampak riil terhadap perekonomian, laba korporasi serta pasar keuangan. Jadi sebaiknya investor perlu menimbang kembali bila hendak melakukan cut loss ( penjualan saham yang dimiliki unuk menghindari kerugian yang lebih besar), lebih baik investor mengkaji ulang posisi portofolio atau melakukan rebalancing portofolio ( menyesuaikan kembali alokasi dana portofoio). (*)

Candra Alim, kelahiran 29 Agustus 1999, Lahir di Kotabumi, Lampung Utara, Provinsi Lampung, Menempuh Sarjana S1 Perbankan Syariah di Fakultas Ekonomidan Bisnis Islam UIN Raden Intan Lamung. Beberapa karya sastra terbit salam Bukku Ber-IsBN Antalogi bersama.

Kontak: 085758105746

Email : candraalim2908@gmail.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *