22 views

Fenomena Covid 19 Terhadap Nilai Tukar Rupiah

Oleh
Nadia Jihan Annisa
Mahasiswa UIN RIL

Dampak Covid-19 telah mengganggu mata rantai ekonomi dunia. Bahkan, berpotensi menimbulkan krisis ekonomi di sejumlah negara jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat. Pandemi Covid-19 akan menyebabkan resesi global pada 2020 yang bisa lebih buruk dari krisis keuangan global 2008. Investor mulai bersiap menarik aliran modal, terutama modal investasi di negara berkembang.

Berdasarkan data Bloomberg, pada Selasa (12/5/2020) rupiah ditutup di level Rp14.905 per dolar AS, terkoreksi tipis 0,067 persen atau 10 poin. Padahal, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama dunia melemah 0,11 persen ke level 100,128.
Kinerja rupiah hari ini menjadi kinerja harian terburuk ketiga di antara mata uang Asia lainnya, yaitu di atas won yang melemah 0,365 persen dan dolar Taiwan yang turun 0,197 persen. Sepanjang tahun berjalan 2020, rupiah telah bergerak melemah 6,97 persen.

Semakin lama Indonesia bertarung melawan COVID-19, tentunya semakin lama juga rupiah berada dalam posisi tertekan. Kecuali, jika sentimen pelaku pasar secara global bisa pulih meski pandemi COVID-19 belum berakhir, rupiah baru memiliki peluang menguat lebih jauh. Itu pun jika pemerintah RI mampu menjaga agar jumlah kasus COVID-19 tidak meroket.

Pergerakan rupiah memang sangat rentan oleh keluar masuknya aliran modal (hot money) sebagai sumber devisa. Sebabnya, pos pendapatan devisa lain yakni transaksi berjalan (current account), belum bisa diandalkan.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan bahwa pelemahan rupiah kali ini disebabkan oleh respon pasar terhadap proyeksi jumlah pengangguran Indonesia tahun ini yang diprediksi meningkat ke level 12 persen dibandingkan dengan tahun lalu di kisaran 9,75 persen.
Tetapi sayangnya pandemi COVID-19 yang kembali membuat sentimen pelaku pasar membuat rupiah malah ambles Senin kemarin.

Faktor fundamental memang lebih berpengaruh terhadap pergerakan rupiah semenjang munculnya pandemi COVID-19.
Kekhawatiran pasar terhadap gelombang kedua penyebaran Covid-19 di beberapa negara juga telah menjadi katalis negatif rupiah. Padahal, dalam beberapa perdagangan sebelumnya rupiah berhasil menguat didukung beberapa negara yang siap untuk melonggarkan kebijakan lockdownnya.

“Dalam perdagangan Rabu (13/5/2020) rupiah kemungkinan bisa berbalik menguat walaupun tipis di kisaran level Rp14.810-Rp14.550 per dolar AS,” ujar Ibrahim seperti dikutip dari keterangan resminya, Selasa (11/5/2020). (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *