52 views

Bandarlampung Zona Merah Cambukan Untuk Herman HN

BANDARLAMPUNG – Walikota Bandarlampung Herman HN, Angkat Bicara terkait Bandarlampung ditetapkan sebagai zona merah oleh Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI.

Herman HN mengatakan, Bandarlampung sebagai zona merah merupakan suatu cambukan bagi nya, agar dirinya lebih berusaha lagi dalam memutus mata rantai penyebaran Covid 19 atau virus Corona.

“Bagi saya itu cambuk, bagi saya Bagai mana lebih gagah, lebih kuat lagi berusaha sebagaimana dinyatakan dari pusat,”katanya saat mengelar konfresin pres di rumah Pribadi nya di Jl Palapa, Kecamatan Tanjungkarang Pusat, Rabu (29/4).

Namun itu semua sudah dilakukanya. Dirinya mengaku telah berupaya sekuat tenaga nya dalam berupaya mencegah sekaligus memutus rantai peyebaran covid 19, mulai dari peyemprotan disinfektan jalan dan rumah rumah warga, mendirikan posko penjagaan di 5 akses keluar masuk Kota Bandarlampung, pengecekan suhu tubu anggota keluarga masyarakat dengan mendatangi rumah rumah setiap kelurahan se-Kota Bandarlampung.

“Semenjak tanggal 16 mei saya sudah berusaha bisa Tanya ke masyarakat bagai mana kerja saya untuk masyarakat Bandarlampung ini agar lebih sehat lagi,” katanya.

Menurutnya, jika dilihat dari kasus yang ada Kota Bandarlampung sebenarnya belum dapat di tetapkan sebagai zona merah karena dari 23 kasus positif Covid 19 itu semua mempunyai riwayat berpergian atau terinveksi dari luar wilayah Bandarampung.

“Kota Bandarlampung sebenarnya belum zona merah ya masih setengah setengah,” katanya.

Dijelaskanya, Bandarlampung dapat dikatakan sebagai zona merah jika peyebaran virus covid 19 tidak lagi atau bukan dari masyarakat luar (Kabupaten/kota) melainkan sudah dari masyarakat ke masyarakat lokal (Transmisi lokal).

“Zona merah itu jika masyarakat Bandarlampung asli, asli maksudnya bukan ketularan, misalnya dari goa otomatis ketularan dari sana, dari itali udah itu satu orang dari balai PU ketularan nya dari yogya,”jelasnya.

Ditambahkanya, dalam hal ini ada sedikit mis komunikasi antara pemerintah daerah dengan pemerintah pusat terkait data covid 19. Sehinga apa yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat tidak sesuai dengan keadaan di daerah tersebut.
Diduga data kasus covid 19 yang dilaporkan oleh daerah ke pusat riwayat terinveksinya covid 19 tidak terlalu di tindak lanjuti oleh pusat.

“Sering tertutup si, kita sering ingin ngebel ke pusat tapi gak bisa mungkin provinsi sejarahnya setengah setengah, seperti yang saya bilang tadi semua yang kena 23 ini sejarahnya 18 ini dari luar semua sedangkan yang 5 tertular orang tua suaminya. Jika kalau kita dibilangin zona merah itu harusnya masyarakat Bandarlampung ini yang kena tapi gak apapa saya dibilangin saya lebih hati hati lagi lebi seteril lagi, lebih getol lagi bagai mana masyarakatnya sehat semua,”tutupnya. (edi)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *