32 views

Protokol Kedaruratan Virus Corona

Oleh : Andi Desfiandi
(Ketua DPP Bidang Ekonomi Pejuang Bravo Lima)

Pada Januari 2020 lalu, dunia digemparkan dengan temuan kasus wabah virus corona, sementara diduga sumber asalnya dari kota Wuhan Cina, wabah tersebut tak berdampak terhadap kehidupan sosial ekonomi negara Cina saja, namun negara lain pun terkena imbasnya, termasuk Indonesia.

Pemerintah Indonesia dalam hal ini terus melakukan kebijakan serta pencegahan serius terhadap wabah virus Covid-19 atau kita kenal Corona tersebut.

Ada upaya yang dilakukan oleh pemerintah lewat kebijakan di sektor pariwisata, salahsatunya adalah pemberian insentif ke sektor pariwisata.

Langkah tersebut dinilai tidak tepat, sebab pada saat ini di seluruh belahan dunia penyebaran virus Corona sedang mewabah dan berdampak multi dimensi.

Apalagi telah ditemukannya beberapa pasien yang sudah confirmed terinfeksi oleh virus tersebut, malah ada 1 kasus yang tertular adalah Warga Negara Asing (WNA), yang sedang berwisata di Indonesia.

Selain WNA yang berkunjung ke negara kita, ada juga kasus pasien yang terinfeksi adalah warga negara kita yang pulang dari dari lawatan ke luar negeri.

Banyak negara-negara lain telah melakukan pencegahan yang cukup serius bahkan terkesan radikal, misal dengan melarang warga negara lain masuk ke negaranya, bahkan ada juga yang melakukan isolasi di kota-kota yamg sudah terinfeksi virus tersebut.

Negara-negara tersebut adalah negara maju, maju dalam hal bidang tehnologi dan kesehatan, upaya yang mereka lakukan adalah tindakan pencegahan yang sangat terukur dengan mengenyampingkan dampak negatif bagi perekonomian negaranya untuk sementara waktu.

Sebenarnya dalam hal ini pemerintah kita juga seyogyanya mengambil keputusan yang berani dan radikal dengan tujuan membatasi penyebaran virus Corona itu, karena secara demography, sosial dan budaya penduduk indonesia lebih rentan untuk terinfeksi dibandingkan negara-negara maju yang sudah melakukan isolasi terlebih dahulu.

Selain itu juga pemerintah perlu membentuk satgas khusus lintas sektoral untuk penanganan virus tersebut, gunanya agar penanganan benar-benar tersentralisir dan fokus, sekaligus itu juga mencegah kesimpangsiuran informasi dan data yang kadang membingungkan karena keberagaman sumber, di tengah maraknya media sosial saat ini.

Saat ini pasien yang baru terkonfirmasi terinfeksi virus Covid-19 baru 34 pasien, tapi berapa jumlah sebenarnya yg sudah terkena belum dapat dipastikan karena yang pasti ke 34 orang itu selama ini sudah berinteraksi dengan banyak orang.

Apabila jika kita menggunakan rumus RO 2.2 saja maka setidaknya 34 orang tsb sudah menginfeksi 75 orang lainnya dan 75 orang lainnya itu sudah menginfeksi 165 orang lainnya lagi dan terus berlanjut sampai seterusnya.

Sehingga tidak menjadi aneh kalau kemudian akan tiba-tiba meledak tinggi angka yang terinfeksi seperti yg terjadi di negara Iran, Itali, Korea dan yang lain, karena penyebaran infeksinya berlipat dan terlambat mencegahnya.

Sebaiknya pemerintah fokus untuk mencegah penyebarannya dengan melakukan upaya-upaya signifikan dalam penanganan protokol kesehatan.

Kalaupun akan memberikan insentif sebaiknya insentif di bidang kesehatan untuk pencegahan serta insentif kepada penguatan ekonomi domestik selama protokol pencegahan virus tersebut diberlakukan.

Isolasi dan melarang sementara turis asing dari negara-negara yang terkena pandemic, membatalkan sementara acara-acara yang melibatkan banyak masa, meliburkan sekolah yang daerahnya sudah mulai banyak penyebaran virusnya dan lain sebagainya.

Dan terakhir kita kembalikan sepenuhnya kepada sang khalik Azza Wa Jalla Allah SWT, semoga senantiasa melindungi kita dari segala mara bahaya dan penyakit.. Aamiin. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *