19 views

Kritisi Jubir Unila

Koordinator Lampung Goverment Watch (LGW) Abdullah Fadri Auli menilai Universitas Lampung sudah “kebablasan” dengan melarang setiap dosennya tidak memberikan pendapat kepada publik. Hal itu menyikapi pernyataan Juru Bicara Rektor Universitas Lampung (Unila) Nanang Trenggono yang meminta setiap akademisi Unila tidak kebablasan dalam memberikan pendapat.

Menurutnya, para pengamat Unila hanya mengkritik yang bersifat membangun dan meluruskan masalah secara normatif. “Saya melihat tidak ada dosen yang kebablasan sebagaimana yang dikatakan Juru Bicara Rektor Universitas Lampung (Unila) Nanang Trenggono,” ujarnya, kemarin.

Mantan Anggota DPRD Lampung periode 2014-2019 itu juga mengatakan apa yang dilakukan para dosen sesuai keilmuannya. “Hal ini sesuai sebagaimana yang diatur dalam Permenristek No.6 Tahun 2015 tentang Statuta Unila,” terang pria yang akrab disapa Aab ini.

Dijelaskannya, berdasarkan Pasal 31 poin 3, kebebasan akademik wewenang profesor atau dosen yang memiliki otoritas dan wibawa ilmu untuk menyatakan pendapat secara terbuka.

“Sebagai alumni, saya ingin Unila terus kritis terhadap kebijakan-kebijakan pemerintah dan wajib mengingatkan para pejabat yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat,” harap politisi PAN Lampung ini.

Untuk itu, mantan Ketua DPW PAN Lampung ini mengingatkan supaya para akademisi tidak terbelenggu kekuatan politik luar kampus.

“Para akademisi sebaiknya jangan di intervensi oleh kekuatan politik luar kampus atau buat statement berdasarkan pesanan penguasa ‘by order’ ini bisa berbahaya,” kata dia.

Menurutnya, rakyat masih sangat berharap kepada para akademisi untuk melihat secara objektif terhadap semua persoalan bangsa ini.

“Tetapi kalau para akademisi sudah tidak objektif lagi karena adanya pesanan, maka kedepan rakyat akan berharap kepada siapa lagi untuk mendapatkan pandangan-pandangan objektif itu, terutama berkaitan dengan persoalan ketatanegaraan,” tukasnya.

Ketua Koalisi Rakyat Lampung untuk Pemilu Bersih (KRLUPB), Rakhmat Husein DC menilai Juru Bicara Unila Nanang Trenggono sebagai akademisi merupakan sosok yang anti demokrasi dan mengingkari amanat UUD 1945. Hal itu menyikapi pernyataan Nanang Trenggono yang meminta setiap akademisi Unila tidak kebablasan dalam memberikan pendapat.

“Stattemen Pak Nanang Trenggono mengatasnamakan juru bicara Rektor Unila yang melarang Dosen Unila untuk bicara dan berpendapat kepada publik dan hanya dosen dengan kualifikasi tertentu yang boleh bicara ke publik membuktikan bahwa Nanang Trenggono sebagai mantan ketua KPU Lampung maupun sebagai akademisi merupakan sosok yang anti demokrasi dan mengingkari amanat UUD 1945, di mana siapapun warga negara Indonesia sejatinya bebas berpendapat untuk menyuarakan kebenaran kepada publik,” terangnya, Selasa (10/3).

Menurutnya, pernyataan Nanang yang melarang dosen untuk berpendapat bakal menimbulkan pertanyaan publik. “Kini publik balik bertanya ke Pak Nanang dan juga Rektor Unila mengapa harus melarang dosen dan mahasiswa untuk menyuarakan kebenaran? Apakah Rektor, akademisi, dan kampus saat ini sudah di bawah tekanan kekuasaan sehingga akademisi atau mahasiswa yang hendak berpendapat harus dengan kualifikasi keahlian tertentu?,” tanyanya.

Menurutnya lagi, justru hikmah dibalik banyaknya akademisi yang kritis tersebut adalah sesungguhnya banyak orang yang sayang terhadap Gubernur Arinal. Maka para akademisi mengingatkan Gubernur Arinal agar tidak tersesat dan masuk dalam jurang.

“Ailahkan saja Unila atau kampus lainnya menikmati fasilitas yang di berikan Gubernur Arinal tapi itu tidak lantas serta merta membungkam suara dan pendapat kritis atas kebijakan pemerintah?,” terusnya.

Selain itu, meskipun bulan lalu Gubernur Arinal berstattment akan melibatkan Unila dalam kepemimpinannya harusnya hal tersebut tidak mengurangi Rektor atau akademisi Unila untuk tetap keras bersuara dan berpendapat demi mewujudkan Lampung Berjaya. Bukan malah Rektor bersembunyi dari publik di belakang juru bicara.

“Hmm…atau jangan jangan Rektor Unila dan Pak Nanang sengaja menggiring Babang Arinal untuk terporosok jatuh karena babang Arinal asyik dalam kekeliruan dan tidak ada yang boleh mengingatkan?,” gumamnya.

Untuk itu, dirinya menyarankan agar Nanang mundur dari jabatannya sebagai Jubir Unila. “Saran saya, dari kegaduhan di jagad sosmed hari ini harusnya Nanang dengan rasa malu kepada publik maka pak Nanang mundur saja dari jabatan juru bicara Rektor dan focus saja mengajar mahasiswa dan belajar kembali soal kebebasan berpendapat dan berdemokrasi,” sarannya.

Sebelumnya, Juru Bicara Rektor Universitas Lampung (Unila) Nanang Trenggono meminta setiap akademisi Unila tidak kebablasan dalam memberikan pendapat.

Walaupun secara UUD 1945, setiap orang diberikan kebebasan untuk menyampaikan pendapatnya. Namun, sebagai akademisi harus memahami kebebasan mimbar akademik. Jangan sampai bias pemahaman kebebasan akademis.

“Artinya yang bisa bicara kepada publik sesuai dengan ilmunya itu guru besar atau dosen yang mempunyai kualifikasi yang sudah senior (lektor senior). Itupun sesuai bidang ilmunya. Kalau dia bicara kepada publik, dia dilindungi rektor dengan asas kebebasan mimbar akademik,” ujar Nanang Trenggono, Senin (9/3).

Dengan demikian, apabila seorang akademisi memberikan pendapat tetapi tidak sesuai dengan bidang ilmunya, maka tidak dapat mewakili Unila. Hal itu sesuai dengan Peraturan Menteri Ristekdikti No. 6 Tahun 2015 tentang Statuta Universitas Lampung.

“Kalau misalnya tidak layak jangan mengatasnamakan akademisi apa. Bebas berpendapat boleh-boleh saja, kalau ada resiko gak bisa berlindung di asas kebebasan mimbar akademik,” kata dia.

Dia mencontohkan seorang akademisi hukum bidang tertentu berkomentar tentang politik. Menurutnya itu tidak pas. “Tapi orang bisa bebas bicara. Akan tetapi, dia gak bisa bilang akademisi Unila, gak bisa mewakili Unila,” jelasnyamewakili Unila,” jelasnya. (cah)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *