31 views

Beber Persoalan Kopi

Ketua Umum Dewan Kopi (Dekopi) Propinsi Lampung, Mukhlis Basri menjadi pembicara dalam suatu diskusi peringatan Hari Kopi Nasional di auditorium Kementerian Pertanian RI, belum lama ini.

Dalam diskusi yang diberi tema “Silaturahmi Penuh Hikmah” itu, Mukhlis yang juga Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDI Perjuangan ini berbicara tentang peningkatan kesejahteraan petani kopi di Indonesia. Khususnya petani kopi Lampung yang merupakan penghasil kopi terbesar kedua di Indonesia dengan kontribusi sebesar 24,19 dari produktivitas kopi nasional.

“Saat ini petani kopi belum sejahtera, akibat berbagai hal, diantaranya jumlah produktivitas yang masih sangat rendah, dimana petani kopi kita hanya menghasilkan 1-4 ton/hektar/tahun. Apabila diasumsikan dengan harga jual Rp18.000/kg, maka masih sangat rendah dari kebutuhan hidup layak,” kata Mukhlis.

Kegiatan yang juga dihadiri Menteri Pertanian RI Syahrul Yasin Limpo dan Ketua Umum Dewan Kopi Pusat Anton Apriantono, Mantan Bupati Lampung Barat (Lambar) dua periode itu memberikan solusi bagaimana meningkatkan hasil produksi petani kopi, diantaranya dengan program bantuan bibit unggul.

“Pemerintah harus bekerja sama dengan Perguruan Tinggi, dalam membudidayakan bibit unggul, dan bibit yang disediakan tidak harus impor dari Vietnam atau Brazil. Gunakan saja bibit lokal yang telah melalui proses ujicoba oleh Perguruan Tinggi,” kata Mukhlis.

Rendahnya hasil panen kopi juga kata Mukhlis, terutama di Lampung sangat berpengaruh dengan iklim, karena apabila musim kemarau hasil akan lebih baik. Dan sebaliknya apabila musim hujan hasil panen akan menurun.

“Saya ini petani kopi, jadi paham betul kondisi yang dialami petani, dengan demikian salah satu upaya pemerintah ada menghasilkan bibit yang cocok untuk semua musim, apalagi saat ini kebun kopi masyarakat sebagian besar tanaman tua yang sudah turun temurun,” jelasnya.

Dan yang tidak kalah pentingnya kata Mukhlis yang juga Anggota komisi I DPR RI, pendampingan oleh tenaga profesional kepada petani. Sedangkan yang terjadi saat kebalikannya, karena banyak Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) alih tugas.

“Faktanya di lapangan banyak PPL yang jadi lurah, camat bahkan kepala dinas, untuk itu kedepan alih tugas tersebut tidak ada lagi, karena petani sangat butuh pendampingan dari PPL tentang bagaimana memilih bibit unggul, perawatan tanaman, dan membasmi hama yang banyak dikeluhkan oleh petani,” ujar Mukhlis yang terpilih sebagai Anggota DPR RI dari Dapil Lampung I.

Secara kualitas kata Mukhlis kopi robusta Lampung tidak kalah dengan kopi dari daerah lain, buktinya, kopi robusta Lampung Barat telah diakui baik oleh negara luar, dengan masuk 10 besar terbaik pada ajang kopi speciality Indonesia dengan score cupping 88,38, meraih penghargaan Bronze Gourmet pada ajang penghargaan AVPA Gourmet Product Paris 2018 pada kategori roastery D’Lampung dengan sampel kopi robusta petani Lampung Barat.

“Secara kualitas dan rasa kopi robusta Lampung secara umum dan khususnya Lampung Barat tidak kalah dengan kopi dari daerah lain, dengan meraih predikat terbaik pada ajang tingkat internasional. Tetapi kenapa petani kopi kita belum sejahtera, itulah menjadi tugas pemerintah mencarikan solusi terbaik,” Pungkas Mukhlis dengan kalimat penutup “Ingat Kopi, Ingat Lampung Barat”. (dbs)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *