30 views

Komisi V Gebrak Meja

BANDARLAMPUNG- Rapat denger pendapat (RDP) antara Komisi V DPRD Lampung dengan Rumah Sakit Umum Abdoel Moeloek (RSUAM) dan BPJS Bandarlampung kemarin diwarnai aksi gebrak meja. Menariknya lagi juga terungkap ternyata RSUAM tak memiliki satu pun dokter rehab medik, selain juga masih kekurangan berbagai dokter spesialis lainnya.

Anggota Komisi V DPRD Lampung Deni Ribowo saat menyampaikan kekeselan yang menururnya kinerja dan pelayanan RSUAM sangat buruk sampai tak mampu menahan emosinya. Polotisi Demokrat ini sambil menggebrak meja menyebut pelayanan rumah sakit milik provinsi itu benar- benar memalukan.

“Kita baru kunjangan kesana. Kata fihak rumah sakit semuanya baik, ini baik, itu baik. Baru ganti minggu ada warga miskin pengguna BPJS mandiri meninggal di selasar. Kabar yang sampai ke saya tidak dilayani dengan baik,” kata Deni meluapkan emosinya.

Anggota komisi V lainnya Lesty Putri Utami bahkan memutarkan vidio amatir wawancara dengan orang tua pasien setelah menurutnya keterangan kronologis penangan yang disampaikan Doketer Pad Dilangga dari fihak RSUAM tidak akurat. Dan ternyata benar dantaran ada perintah pembelian obat dari dokter ke keluarga pasien meski seharusnya seluruh obat sudah ditanggung fihak BPJS.

Suprapto anggota Komisi V lainnya mempersoalkan buruknya managemen pengelolaan rumah sakit type A tersebut khusnya dalam pengelolaan sumber daya manusianya yang mengakibatkan pelayananannya selalu dikeluhkan.

“Kan lucu juga ternyata RSUAM kini satu pun gak punya dokter rehab medik. Padahal menjadi syarat bagi rumah sakit type A wajib memiliki rehab medik. Kalo dokternya gak punya ya gemana operasionalisasi rehab mediknya,” kata Suprapto.

Sekretaris Fraksi PAN ini juga menyayangkan kinerja pihak managemen RSUAM yang menurutnya terjadinya kekurangan berbagai dokter spesialis adalah akibat kelemahannya dalam mengelola SDM. “Menurut saya masalah kekurangan dokter ini harus menjadi prioritas perhatian kita. Masyarakat bisa tertawa lebar-lebar kalua kita terus masih keluhkan soal SDM. Soal ketersediaan dan profesionalitas SDM ini yang akhirnya bagaimana layanan rumah sakit kita,” terang Suprapto.

Sekretaris Komisi V Rahmat Mirzani Djausal menandaskan pentingnya komitmen memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat. “Karena rumah sakit itu layanan, ya SDM medis dan segala perangkat pendukunya harus tersedia dengan baik. Intinya masyarakat itu hanya ingin mendapat pelayanan terbaik, soal teknis ya pihak rumah sakit dan kita sebagai pemerintah,” ungkap Ketua Fraksi Gerindra ini.

Anggota Komisi V dari Fraksi PKS Syarif Hidayat menyoroti SOP yang kerap dilanggar pihak RSUAM. Dia mencontohkan, semestinya pasien mendapat hak divisit dokter pagi hari, tapi kenyataan di lapangan tak sedikit dokter melakukan visit sore hari. “Memang ada alasan pembenarannya, misalnya ada tindakan operasi dan macem-nacem. Tapia pa yang begini akan diterus teruskan,” kata politisi PKS ini.

Anggota Komisi V asal Fraksi NasDem, Asih Fatmawanita
mengatakan, jika mendengar penjelasan Kepala Pelayanan RSUAM, dr. Pad Dilangga maka tidak ada pelanggaran dalam pelayanan rumah sakit. Artinya, pelayanan sudah sesuai SOP (standar operasional prosedur).

“Saya yakin setiap yang datang ke rumah sakit pasti pengin sembuh, bukan malah meninggal dunia. Menurut penjelasan dr. Fad, pelayanan sudah sesuai SOP, jadi menurut saya ini hanya miskomunikasi atau minimnya edukasi kepada pasien atau keluarga pasien,” kata Asih.
Asih berharap ke depan pihak manajemen ke untuk lebih menggiatkan edukasi pelayanan kepada masyarakat sesuai SOP. “Kedepan pihak pelayanan untuk lebih edukasi lagi, karena masyarakat tahunya sembuh keluar dari runah sakit,” tandasnya.

Diketahui RDP digelar secara khusus terkait meninggalnya pasien BPJS Muhamad Rezki Mediansori (21), warga Desa Palas, Kecamatan Palas, Lampung Selatan, di selasar karena diduga telantar dan tidak mendapatkan pelayanan yang baik.

Ketua Komisi V DPRD Lampung, Yanuar Irawan dalam membuka RDP mengatakan pihaknya bukan mencari-cari kesalahan namun dengan keterbukaan informasi ingin mengurangi kejadian-kejadian yang merugikan masyarakat di kemudian hari.

Dia menyebutkan ada indikator-indikator yang menjadi perhatian pihaknya, seperti regulasi apakah RSUAM dan BPJS sudah melakukan regulasi tersebut. Kemudian mengenai SOP masing-masing lembaga telah dijalankan dengan baik dan sebagainya.

“Kami tahu RSUDAM sebagian sudah melakukan kerjanya dengan baik. Tapi kami juga tidak bisa menutup mata masih ada oknum-oknum yang tidak melaksanakan tugas dengan baik,” katanya.

Sementara itu, Direktur Pelayanan RSUAM, Pad Dilangga sebelum menyampaikan keterangan meminta izin agar seluruh yang ada di ruangan mendoakan pasien yang meninggal dengan membaca suar Al-Fatiha. Setelah doa bersama, dokter Fad menjelaskan kronologi kejadian tersebut. Dia juga tidak menduga ada pasiennya yang meninggal seperti itu.

Namun pada prinsipnya, pihaknya melakukan evaluasi dan terus berupaya melakukan perbaikan-perbaikan. “Protap sudah kami lakukan, tidak ada penelantaran. Kami juga tidak membeda-bedakan dalam menangani pasien,” katanya.

“Ke depan, pelayanan harus diperbaiki dan dioptimalkan. Kami miris sekali kalau peserta kami dinomorduakan atau dianaktirikan,” katanya.

Lebih lanjut dr. Pad menyatakan pasien yang merupakan warga Desa Palas Pasemah, Kecamatan Palas, Kabupaten Lampung Selatan itu tidak hanya mengidap satu penyakit. Selain demam berdarah dengue (DBD), Rezki juga menderita grasto entiritis akut (diare), dan hepatitis (infeksi hati). “Pasien merupakan rujukan dari RSU Bob Bazar Kalianda. Ia masuk UGD RSUAM pada Minggu, 9 Februari 2020 pukul 06.36 WIB,” kata Pad Dilangga.

Menurut Pad Dilangga, ketika datang di RSUAM pasien dalam kondisi sakit berat, gelisah, dan sesak. Ia kemudian dirawat dengan perhatian penuh di instalasi gawat darurat RSUAM. Pad menyatakan, pihaknya sudah melakukan tindakan pelayanan sesuai kondisi pasien.

“(Setelah) dikonsultasikan dengan dr. Riki, Sp.PD, lalu mendapatkan rencana terapi transfusi daerah sebanyak 2 kantung, transfusi trombosit 10 kantung, dan observasi secara ketat. Pada pukul 17.00 WIB saat dr. Riki melakukan pengecekan kondisi pasien masih gelisah. Kontak anedekuat dan terapi dilanjutkan,” katanya.

Menurut dr. Pad Dilangga, pada Senin, 10 Februari 2020 pukul 03.00 WIB pasien alih rawat ke Ruangan Bougenville.
“Terapi dilanjutkan, tranfusi dilanjutkan sesuai instruksi. Lalu dilakukan pengecekan oleh dr. Riki. Diagnosisnya, pasien mengalami DHF (demam berdarah) disertai uremia dan asma eksaserbasi,” ujarnya.

Pad Dilangga mengatakan, dengan kondisi pasien seperti itu, dr. Riki kemudian melakukan edukasi kepada keluarga pasien. Kepada keluarga pasien dikatakan bahwa kondisi pasien sangat serius dan akan dipindahkan ke ruangan rawat khusus penyakit dalam (sesuai keahlian DPJP).

Setelah itu, kata Pad, pada pukul 16.00 WIB pasien dipindah ke Ruang Nuri dengan oksigen terpasang. Saat itu ia diampingi dua orang petugas. Di depan kamar Ruang Nuri, pasien sudah ditunggu oleh perawat untuk tatalaksana selanjutnya.

“Tetapi pasien mendadak dan perawat segera melakukan tindakan. Tetapi keluarga pasien tiba-tiba marah, memegang dan memukul petugas, serta mencabut selang oksigen yang masih terpasang di pasien tersebut. Akibatnya, pasien tidak tertolong. Pasien meninggal dunia, kemudian dibawa ke rumah duka dengan mobil jenazah RSUAM,” katanya. (cah)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *