31 views

Ciamik, Kini Indonesia Miliki 370 Sensor Seismik

BANDARLAMPUNG — Kabar baik datang dari BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika), salah satu lembaga pemerintah non kementerian paling diburu informasi terbaru keluarannya terkait kondisi terkini perubahan iklim dan cuaca musim hujan ini.

Penelusuran redaksi, Rabu (8/2/2020), akun ofisial media sosial BMKG merilis, sepanjang tahun 2019 lalu BMKG berhasil menambah 194 unit sensor seismik, tambahan atas 176 unit eksisting sebelumnya, sehingga kini Indonesia memiliki 370 unit sensor seismik terpasang tersebar di seantero Tanah Air.

Melalui Kedeputian Bidang Geofisika Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, BMKG merinci
194 unit sensor terdiri dari 100 unit sensor seismik broadband untuk mempercepat dan meningkatkan akurasi info gempa, dan 94 sensor seismik miniregional (minreg) untuk deteksi keberadaan sesar lokal di Indonesia dan meningkatkan kecepatan info gempa.

“100 lokasi sensor seismik broadband dengan kapasitas jangkauan frekuensi yang sangat lebar ditujukan untuk mengawal ancaman bahaya gempa bumi dan tsunami dari megathrust dan sumber tektonik lainnya yang sangat jauh,” tulis unggahan BMKG.

Sedang sisanya, “94 lokasi sensor seismik miniregional didesain pada band frekuensi tinggi ditujukan untuk mengawal ancaman bahaya bencana gempa bumi dan sumber patahan lokal aktif,” tulis unggahan itu lagi.

Dijelaskan, penambahan unit sensor seismik guna merapatkan jaringan monitoring gempa tersebut akan bisa meningkatkan kecepatan akurasi informasi gempa dan peringatan dini tsunami. Selain itu, juga merupakan salah satu elemen pokok program penguatan dan pengembangan Indonesia Tsunami Early Warning System (Ina-TEWS) 2019.

BMKG menggarisbawahi, perkuatan deteksi dini melalui peningkatan kecepatan dan akurasi informasi gempa demi terciptanya kesegeraan percepatan respons terhadap segala kemungkinan yang terjadi, membuat sistem ini mampu mengeluarkan informasi gempa kurang dari 5 menit pascagempa.

Diketahui, lembaga yang kini dikepalai oleh Prof Ir Dwikorita Karnawati MSc PhD –bekas rektor perempuan pertama UGM Yogyakarta pengganti Prof Dr Pratikno MSoc.Sc usai terpilih Mensesneg Kabinet Kerja 2014 itu, terus menyempurnakan Ina-TEWS menjadi sebuah sistem yang komprehensif.

Dikutip dari laman resmi BMKG, Ina-TEWS telah menerapkan teknologi DSS (Decision Support System), sistem pengumpul semua informasi dari hasil sistem monitoring gempa, simulasi dan monitoring tsunami, serta deformasi kerak bumi pascagempa.

11 Desember 2019, untuk pertama kalinya lembaga yang berpusat di Jl Angkasa I/2, Kemayoran, Jakarta ini meraih penghargaan Pelayanan Publik Lingkup Kementerian dan Lembaga Tahun 2019 predikat Memuaskan dan kategori Baik, dari Kemen-PAN RB.

Raihan usai serangkaian proses monitoring dan evaluasi (monev) mutu administrasi unit Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) BMKG oleh Kemen-PAN RB selaku penanggung jawab monev kinerja penyelenggaraan publik oleh ASN unit penyelenggara pelayanan publik dan instansi pemerintah lainnya, di 51 kementerian/lembaga demi peningkatan kualitas pelayanan publik, Mei-Oktober 2019.

Adapun, penilaian meliputi aspek kebijakan pelayanan, profesionalisme SDM, sarana prasarana, sistem informasi layanan publik, konsultasi dan pengaduan, serta inovasi.

Kabar gembira lainnya, diprediksi tak lama lagi BMKG juga bakal menyegerakan terapan
instalasi sensor Earthquake Early Warning System (EEWS) sebagai sistem peringatan dini gempa bumi. Kini masih proses ujicoba, 50 sensor EEWS telah terinstal di seluruh kabupaten/kota di Sumatra Barat, kerja sama BMKG, BNPB dan Pemprov setempat.

“Masih taraf ujicoba, sehingga masih perlu kajian dan evaluasi. Ke depan jika sistem ini berjalan dengan baik, akan dikembangkan secara masif di seluruh wilayah Indonesia,” unggah BMKG, Senin (23/12/2019) lalu. (*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *