25 views

BUMN, Sistemik Mis Management ?

Dr. Andi Desfiandi, SE, MA
Ketua Bidang Ekonomi DPP Bravo Lima
Ketua Yayasan Alfian Husin
Ketua IKA Unpad Lampung.

BUMN menurut UU Nomor 19 Tahun 2003, merupakan perusahaan yang dimiliki oleh negara melalui penyertaan modal langsung, sehingga anak dan cucu BUMN dianggap bukan BUMN.

Ketika BUMN membentuk anak usaha dan kemudian anak usaha membentuk cucu usaha apakah harus mendapat persetujuan menteri BUMN sebagai kuasa Pemerintah ?

Sebagai pemegang saham BUMN, pemerintah harus menyetujui seluruh kebijakan dan aksi korporasi yang akan dilakukan oleh BUMN termasuk pendirian anak dan cucu perusahaan.
Karena modal yang digunakan untuk pendirian anak dan cucu perusahaan menggunakan modal ataupun aset BUMN yang notabene pemilik sahamnya adalah Pemerintah.

Dari 142 BUMN tercatat hanya 15 BUMN yang menyumbang deviden sebesar 210 Triliun, artinya sisa 127 BUMN lain merugi alias tidak mampu membagikan deviden kepada pemerintah.

Dengan Total Asset seluruh BUMN yang mencapai 8.200 Triliun dan dengan jumlah BUMN 142 serta jumlah anak dan cucu BUMN yg diperkirakan lebih dari 900 perusahaan.

Hanya mampu meraih total pendapatan kotor sekitar 2.300 Triliun dan perkiraan DER sekitar 34%, sementara hanya 15 BUMN yang menyetor Deviden kepada negara dengan total Laba sekitar 188 Triliun di tahun 2018, boleh dianggap kinerja keuangan BUMN kurang menggembirakan.

Oleh sebab itu kekagetan Erick Thohir baru-baru ini, setelah mendapat info bahwa Pertamina memiliki 142 anak cucu usaha sementara Krakatau Steel memiliki 60 anak cucu, menjadi tidak mengherankan. Begitupula halnya saat mengetahui Direksi Garuda juga merangkap Komisaris di anak dan cucu usaha Garuda.

Hal tsb meyakinkan kita semua bahwa tidak semua BUMN dan anak serta cucu usahanya terdaftar dikemeterian BUMN dan sekaligus tidak terkontrol oleh kementerian BUMN selama ini.

Entah bagaimana sistim pelaporan manajemen BUMN selama ini kepada kementerian, sehingga hal2 seperti itu luput dari pengawasan kementerian cq pemerintah yang faktanya adalah pemegang saham seluruh BUMN termasuk anak dan cucu usahanya.

Dan entah berapa total sebenarnya anak dan cucu BUMN yang kemungkinan saat ini apabila ditanyakan kepada menteri BUMN pasti jawabannya tidak tahu, dan mungkin saja bisa diatas 1.000 karena Pertamina dan KS saja memiliki 202 anak dan cucu usaha belum lagi yang dimiliki oleh 140 BUMN lainnya.

Luar biasanya lagi para direksi BUMN tsb juga menjadi komisaris di anak dan cucu usahanya, bisa dipastikan Direksi anak usaha BUMN tsb juga menjadi komisaris di cucu usahanya.

Dari situ saja sudah bisa dipastikan telah terjadi praktek manajemen yang tidak baik karena bagaimana Direksi bisa fokus mengurus perusahaannya dikarenakan memiliki beberapa jabatan lain di anak dan cucu usahanya ? Dan kemungkinan juga akan terjadi conflict of interest dan abuse of power di perusahaan-perusahaan tersebut.

Praktek transfer of pricing, mark up, manipulasi termasuk rekayasa keuangan akan sangat mudah dilakukan karena sistim pengawasan yang sangat rendah serta para pengurus perusahaan hanya di lingkaran itu saja.

Kerugian BUMN bisa saja terjadi karena beban usaha dari anak dan cucu akibat praktek transfer of pricing, mark up dan sejenisnya termasuk juga beban usaha lainnya diantaranya biaya gaji dan lain-lain yang membengkak kemudian dibebankan ke BUMN sebagai pemegang saham.

Lebih diperparah lagi anak dan cucu usaha tidak ada hubungannya dengan Core Business BUMN tersebut, misal saja Garuda memiliki cucu usaha yg bergerak dibidang pengiriman paket dan Pertamina memiliki cucu usaha dibidang pencucian mobil.

Sehingga tidak salah apabila banyak pihak menduga bahwa anak dan cucu usaha BUMN tersebut didirikan untuk kepentingan orang-orang yang tidak bertanggung jawab sebagai bancakan uang negara dan membangun kerajaan bisnis mereka saja.

Tidak aneh memang, apabila kinerja BUMN masih jeblok hingga saat ini karena corporate restructiring serta aksi korporasi yang telah dilakukan selama ini hanyalah sekedar window dressing untuk menggelembungkan asset dan modal melalui revaluasi asset dan merger untuk menarik modal dari IPO maupun pinjaman.

Dimana dana yg diperoleh oleh BUMN bukan digunakan untuk meningkatkan produktifitas core businessnya, melainkan digunakan untuk menutup kerugian BUMN tersebut, termasuk kerugian anak dan cucu usahanya serta untuk membayar hutang.

Lebih celaka lagi hutang dan piutang usaha terjadi diantara BUMN dan anak cucu usahanya, apabila terjadi piutang macet maka semuanya akan terkena juga dari bawah hingga keatas seperti lingkaran setan, hanya mutar-mutat di situ saja.

Salah satu aksi korporasi yang terlihat setengah setengah dilakukan adalah akuisisi saham pertagas oleh PGN yang seharusnya setelah dilakukan akuisisi diikuti dengan aksi merger.

Merger PGN, Pertagas dan perusahaan-perusahaan sejenis (yang sama core businessnya) agar diperoleh efisiensi dan kontrol terhadap anak usahanya, namun sepertinya tidak dilakukan dengan entitasnya tetap dibiarkan terpisah.

Pertamina misalnya bisa menjadi holding migas dan kemudian memiliki subholding PGN yg bergerak dibidang gas (hasil merger dengan pertagas dan perusahaan sejenisnya), subholding minyak yg corenya adalah minyak, subholding logistik misalnya yang khusus di bidang logistik. Dimana keseluruhan anak usaha Pertamina mendukung core businessnya dan menjadi semacam holding khusus migas. Namun apapun aksi korporasi ataupun corporate restructuring seyogyanya setelah dilakukan pemetaan/review yang mendalam terhadap keseluruhan 142 anak cucu Pertamina.

Barangkali nantinya Pertamina cukup memiliki 30-50 anak usaha dengan beberapa subholding, sisanya mungkin ada yg dilikuidasi, dimerger atau dipindahkan ke BUMN atau subholding BUMN lain yg sejenis core businessnya.

Tidak seperti sekarang ini, Pertamina bergerak di mainstream, midstream dan uprstream mulai dari lapangan minyak, gas hingga charter pesawat dan pencucian mobil.

Sebagian besar anak dan cucu BUMN menyimpang dari corenya dan mengurusi segalanya dan bahkan seolah enggan membagi kue kepada pihak swasta dan UMKM.
Padahal BUMN diharapkan bukan hanya menjadi penggerak utama perekonomian nasional tapi juga buffer ekonomi dan katalisator perekonomian nasional bersinergi dengan seluruh sektor ekonomi nasional termasuk swasta dan UMKM.

Sepertinya di struktur kementerian BUMN tidak ada Internal Auditor yang bertugas khusus untuk melakukan audit manajemen dan keuangan secara berkala kepada seluruh BUMN dan anak cucunya, sehingga bisa diperoleh deteksi lebih dini atas masalah-masalah yang terjadi di tubuh BUMN serta anak cucunya.

Patut diduga selama ini laporan manajemen termasuk Laporan keuangan internal maupun audited dari BUMN tidak benar-benar dipelajari dan dikoreksi oleh kementerian BUMN.
Kemungkin saja BUMN selama ini hanya menampilkan Consolidated Financial Statement walaupun dalam laporan long form tapi pasti informasinya sangat minim apalagi mengenai kinerja anak cucu usahanya.

Fenomena yang terjadi dalam tubuh BUMN saat ini dapat dikatakan telah terjadi “sistemik mis mangement” dan ini sangat berbahaya seperti bom waktu yg siap meledak kapan saja.

Memang sepatutnya pembenahan BUMN yg sedang dilakukan oleh Erick Thohir sebaiknya tidak hanya dilevel atas BUMN tapi juga dengan membenahi anak cucu usahanya.

Rekayasa ulang bisnis proses dan bisnis model mulai cucu dan anak usaha hingga ke BUMN/holdingnya.
Agar didapat peta yang menyeluruh dari seluruh entitas termasuk jenis usaha, sistem manajemen, keuangan dsbnya.
Sehingga akan menjadi dasar kebijakan strategis kementerian BUMN untuk memangkas anak cucu usaha, melakukan merger, dikelompokkan didalam 1 subholding atau holding dsbnya.

Agar BUMN benar benar bisa menjadi backbone perekonomian nasional, katalisator perekonomian dan juga buffer perekonomian.
Untuk itu BUMN perlu sehat dahulu dan bukan hanya menjadi mitra bagi swasta, UMKM dan lain-lain tapi juga mampu menahan gejolak ekonomi global bahkan bersaing ditingkat global.
Wallahualam.

Bahkan candaan netijen yang menyebut BUMN itu bukan singkatan “Badan Usaha Milik Neneklu” harus dikembalikan menjadi “Badan Usaha Milik Negara”, miris memang tapi begitulah kenyataannya.

Ayo menteri BUMN terus semangat, terus konsiten membenahi BUMN, just do your best and let God do the rest ! (*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *