35 views

Andi Desfiandi :”Transformasi atau (sekedar) Bongkar Pasang BUMN”

Dua bulan belakangan ini, kita sudah menyaksikan beberapa gebrakan yang dilakukan oleh Menteri BUMN dan menjadikan menteri BUMN sebagai Media Darling di Indonesia.

Gebrakan yang dilakukan telah berhasil mencuri hati masyarakat dan diapresiasi seperti pengangkatan Ahok sebagai Komisaris Utama (walaupun lebih cocok sebagai Dirut) Pertamina, kemudian pemberhentian direksi Garuda yang sempat menghebohkan jagat maya dan publik.

Menteri Erick juga selalu mengatakan bahwa akan melakukan perombakan besar-besaran di tubuh BUMN, yang dalam pemikiran saya adalah melakukan transformasi total bisnis proses dan bisnis model dari BUMN.

Erick menyampaikan bahwa ingin menerapkan “Good Corporate Governance” dan akan menempatkan para eksekutor dan pengawas BUMN yang kredibel, berintegritas dan loyal kepada negara.

Pernyataan-pernyataan tersebut dan beberapa aksi yang dilakukan tentunya membawa angin segar bukan saja untuk BUMN tapi tentunya dunia usaha dan masyarakat pada umumnya.

Karena bagi masyarakat mungkin sebagian sudah merasa apatis atau bahkan jemu melihat kinerja BUMN yang begitu-begitu saja dan sebagian besar hanya menjadi beban negara serta hanya memperkaya sebagian kecil kelompok dan menciptakan oligarki saja.

“Kerajaan BUMN” sepertinya hanya asik dengan dirinya sendiri dan sibuk menciptakan kerajaan-kerajaan kecil diantara BUMN, dengan membentuk ratusan dan mungkin ribuan anak dan cucu usaha yang tidak tersentuh oleh pengawasan internal bahkan mungkin oleh UU sekalipun.

BUMN seolah hanya diperuntukkan oleh emporium tertentu untuk mendukung kepentingan kelompok tertentu saja dilingkungan BUMN itu sendiri, tanpa meneteskan sedikitpun ruang untuk swasta apalagi UMKM bahkan BUMD/BuMDES untuk ikut serta.

Padahal BUMN diharapkan bukan saja menjadi Prime Mover perekonomian nasional dengan Assetnya yang 4 kali lipat dari APBN, tapi juga seharusnya mampu menjadi katalisator perekonomian nasional bersinergi dengan sektor-sektor ekonomi lainnya seperti swasta dan UMKM serta organisasi usaha lain.

Bahkan menjadi buffer/benteng ekonomi nasional dalam membendung gelombang pengaruh ekonomi global saja belum sanggup, apalagi mampu bersaing dikancah global.

Kembali kepada aksi perombakan besar-besaran yang sedang dilakukan oleh kementerian BUMN sepertinya akan terus berlanjut entah sampai kapan.

Saya berharap agar aksi yang akan dilakukan harus benar terstruktur dan sistimatis, jangan sampai kehabisan nafas ataupun kehilangan momentum.

Good Corporate Governance (GCG) adalah salah satu tujuan utama dalam melakukan transformasi total, namun untuk mencapai hal tersebut tidaklah mudah.

Untuk mencapai GCG memerlukan sebuah “budaya organisasi” yang tidak bisa sim salabim abra kadabra dengan hanya menempatkan orang-orang terpilih di kursi Dirut atau Komut.

Diperlukan “Leaders” atau “Super Team” sehingga tidak cukup hanya dirut atau komut tapi “Jajaran Direksi” dan ” Jajaran Komisaris” yang tepat dan mampu bekerja sama dalam sebuah tim.

Tim tersebut harus mampu melakukan transformasi di BUMN, dengan melakukan restrukturisasi total secara simultan sesuai dengan Visi dan Misi BUMN dan tidak bisa parsial sesuai dengan tupoksi masing-masing direksi dan komisaris dalam satu arahan dan tujuan yang sama.

Perubahan sistim manajemen dengan melakukan pemetaan ulang melalui rekayasa ulang bisnis proses atau menata ulang bisnis model agar diperoleh sistim manajemen yang lebih efektif, efisien, akuntable dan controlable tentunya.

Pemilihan SDM yang tepat dalam struktur organisasi yang baru juga sangat penting agar “Budaya Organisasi” yang baru dapat dijalankan agar tercapai GCG dan tercapainya tujuan transformasi BUMN yang diharapkan.

Transformasi BUMN tidak melulu melakukan restrukturisasi keuangan saja, tapi juga operasional dan fungsi-fungsi lain didalam organisasi, untuk itulah kenapa rekayasa ulang bisnis proses perlu dilakukan.

Catatan dari beberapa kali perombakan manajemen di tubuh BUMN akhir-akhir ini agak menimbulkan tanda tanya.
Sosok yang dipilih boleh dikatakan semuanya berasal dari BUMN juga dan seperti “Tour of Duty” antar BUMN.

Menjadi pertanyaan apakah tidak akan menjadi masalah apabila pemerintah ingin merubah total sistim manajemen, kemudian para panglimanya diambil dari lingkaran yang sama atau sumber yang sama ?.

Apakah perubahan budaya bisa dilakukan sementara para panglimanya sudah terlalu lama larut dalam budaya yang sama ?
Padahal sekali lagi yang ingin dilakukan adalah “transformasi total” bukan sekedar “bongkar pasang manajemen”.
Sehingga jangan sampai kemudian alih alih melakukan transformasi tapi ternyata hanya melakukan rekayasa keuangan atau lebih tepatnya rekayasa laporan keuangan, seperti pernah dilakukan oleh beberapa BUMN beberapa waktu yang lalu.

Dan sampai saat ini kebetulan yang di bongkar pasang adalah profesional BUMN yang memiliki keahlian mirip yaitu bankir dan spesialis keuangan, satu BUMN dikeroyok oleh ahli-ahli keuangan.

Sehingga mengesankan bahwa begitu seriusnya masalah keuangan BUMN tersebut dan satu-satunya masalah adalah keuangan, masalah produksi atau SDM atau supply chain dan lain terkesan dikesampingkan.

Padahal ada direktur keuangan dan juga komisaris yang juga paham keuangan untuk melakukan financial restructuring, seyogyanya Dirut diambil dari seorang generalis yang memahami manajemen secara luas dan bisa diback up oleh Komisaris Utama yang juga Generalis serta paham manajemen agar mampu mengawasi kinerja Direksi dan menjadi mitra kerja direksi yang kuat.

Barangkali menteri BUMN juga berani melakukan terobosan dan out of the box, memberi kesempatan profesional swasta dan multi nasional yang masih fresh dan memiliki budaya kerja/korporasi yg kuat, sehingga mampu menularkan budaya baru kedalam BUMN dan terhindar dari conflict of interest karena tidak punya masa lalu di BUMN.

Bukan berarti Direksi atau pegawai BUMN tidak mumpuni dan pasti kapasitasnya sangat mumpuni, tapi akan menjadi lebih baik kalau dicampur dengan profesional dari kalangan swasta/di luar BUMN agar lebih mewarnai dalam membentuk budaya baru.

Saya yakin masih banyak profesional-profesional hebat dan tangguh di Indonesia yang belum diberikan kesempatan mengabdi di BUMN, yang memilki integritas dan kapabilitas atau kapasitas yang baik.

Ignatius Jonan sebelum di PT Bahana dan PT KAI adalah profesional di perusahaan swasta dan sukses melakukan transformasi di Bahana dan KAI.
Roby Djohan yang berhasil melakukan transformasi di Garuda dan Mandiri juga berasal dari Bankir swasta atau Tanri Abeng yang dulu dikenal sebagai manajer 1 miliar dan Cacuk Sudarijanto yang juga sukses merombak total Telkom juga berasal dari swasta.

Kita berharap banyak dari sosok Erick untuk mampu melakukan transformasi total di BUMN, apalagi baru dua bulan lebih beliau bekerja dan pasti sudah memiliki Strategic Plan dalam membenahi BUMN.

Semoga beliau tetap konsiten dan terus berani melakukan terobosan-terobosan baru bahkan lompatan jauh untuk menjadikan BUMN seperti yang kita harapkan.

Karena masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan beliau setelah pemetaan dilakukan misalnya melikuidasi perusahaan parasit, melakukan merger, melakukan holdingisasi dan sebagainya.
Wallahualam..

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *